Hatta Radjasa Ketua IA ITB
November 17, 2007
Bapak Menteri kita mengalahkan para pesaingnya… Jadilah beliau ketua IA ITB yang baru. Ya,resmi sudah beliau menjabat ketua IA ITB yg baru periode 2007-2012. Di TPS Bandung, yaitu di Aula Timur ITB, beliau memperoleh suara yg mutlak sebesar 2224 suara. Ibu Betti sebanyak 862 suara, Bang Zaid sebanyak 177 suara, Pak Boyke 149 suara dan Pak Hengky 844 suara. Memang suara ini masi belum mencerminkan seluruh suara. Tapi perlu diingat bahwa di TPS Bandung ini tercatat sebanyak 4261 pemilih yg merupakan jumlah TPS dengan pemilih terbanyak.
Saya bisa tahu persis berapa perolehan suara yg ada di Bandung karena kebetulan saya dan Ridha serta mas Affan memegang langsung streaming acara ini ke Inherent dan ke Internet (halah, gitu aja bangga,wong cuman ngeklak-ngeklik kiri kanan…). Sebenarnya seluruh hasil daerah TPS yg lain juga diumumkan, tetapi saya tidak bisa berkonsentrasi untuk mencatat hasilnya dikarenakan kedatangan paket istimewa dari McDonalds berupa softdrink dan Paket Panas 1. Tentu saja hal ini lebih menarik minat saya… Hehehe…
Secara keseluruhan,suara yg diperoleh oleh semua kandidat dari semua daerah adalah sebagai berikut :
Betti Alisjahbana 1806
Hatta Radjasa 4510
Zaid Perdana 271
Boyke W 421
Tri Haryo Susilo (Hengky) 2090
Jumlah total pemilih sebesar 9134 orang. Sungguh jumlah yg katanya banyak (gara2 tepuk tangan para hadirin yg ada di aula timur)
Namun sayangnya, dari pemilihan ini ada 2 TPS yang jumlah suaranya dibatalkan, yaitu TPS yg ada di salah satu kota di Jawa Timur dan TPS yang ada di Bali. TPS di Jawa Timur dibatalkan karena menggunakan metoda polling SMS sedangkan TPS Bali dibatalkan karena pemilihan dilakukan kemarin, tanggal 16 November 2007.
Setelah disahkan melalui Kongres IA ITB pada saat itu juga yaitu setelah pemilihan selesai, maka dengan resmi terjadilah peristiwa penyerahan jabatan dari Laksamana Sukardi ke Hatta Radjasa.
Selamat…!!! Kepada pemenang perlombaan ini, yaitu Bapak Hatta Radjasa.. Semoga hasilnya dapat diterima oleh semua pihak dan dapat membawa IA ITB dan tentu saja ITB ke arah yg lebih baik lagi.. Amien..
Sesuai slogan Bapak…. “Saya membuka jalan, yang muda berkreasi”
Semoga Bapak memberikan kesempatan pada saya untuk berkreasi lebih jauh lagi…
Hehehehehe…
Praktikum
November 11, 2007
Akhirnya…
Hari Rabu, 7 Nov kemarin, praktikum resmi terakhir saya sepanjang menjadi mahasiswa di gajah duduk ini berakhir sudah.. Praktikum terakhir yang sangat berkesan. Judul praktikumnya sih keren, Pengukuran Frekuensi dan Panjang Gelombang. Tempatnya di LTRGM ( Lab Telekomunikasi Radio dan Gelombang Mikro). Rekan kerja : Aldo Adiyasa dan Daniel Adrianto.
Tapiii….. Tau ga kenapa jadi berkesan? Masuk jam 11.15 eh keluarnya jam 11.30. Praktikum 15 menit??? Parah betol. Nggak ada test awal pula. Macem mana ini calon engineer2 telekomunikasi masa depan mau sukses. Praktikumnya sih gampang, tinggal puter…. geser…. baca , puter….. geser… baca. Selesai dah. Makanya bisa cepet, cuman 15 menit saja. Padahal asistennya kordas nya lho… Hehehehe…
Arghh… nyesel juga praktikum trakhir kali harus diselesaikan dalam waktu yg sangat singkat. Maunya sih bakal dibikin berkesan,tp kok ya jadi begini.. Mungkin inilah rekor praktikum tercepat yg pernah dicetak oleh mahasiswa gajah duduk.. Ada yg ga setuju? Ngacung..!!
Tapi,terlepas dari semua itu, dimohon bagi pihak2 yang merasa tersinggung dengan tulisan ini untuk tidak melakukan tindakan yg merugikan penulis. Ambil contoh : Ketika sang kordas praktikum membaca tulisan ini dan dia menjadi tersinggung *karena cuman 15 menit* maka hendaknya sang kordas tidak serta merta memberikan nilai yg buruk kepada penulis dan rekan kerjanya yg pada gilirannya menjadikan penulis (dan bahkan mungkin rekan kerjanya) menjadi tidak lulus praktikum ini. (beuh,kata2nya macem script berita aja) Hal ini akan mengurangi kebijaksanaan dari sang kordas sendiri. Dan bagi pihak2 yg merasa mengenal kordas, dimohon untuk tidak berusaha menjatuhkan penulis dengan membesar2kan apa yang ada di dalam tulisan ini.
Diantara dua pilihan
November 11, 2007
Apakah yg terjadi bila anda tiba2 dituntut untuk meninggalkan sesuatu yg sudah menjadi kebiasaan dan pekerjaan anda sehari-hari? Kaget atau justru merasa tertantang? Itulah apa yg kemungkinan akan terjadi pada saya saat ini. Bingung, harus menentukan mana yg terbaik bagi hidup saya kelak. Tentu saja semua hal, apapun bentuk dan bidangnya akan sama-sama memberikan hasil yang maksimal apabila dilakukan dan dikerjakan dengan tekun. Hal ini sudah umum diketahui semua orang. Tapi apa jadinya bila tidak?
Pengennya sih bisa dua2nya… Jago disini dan juga jago disana. Tapi tentunya akan sangat susah sekali untuk bisa melakukannya. Apalagi saya terkenal sebagai orang yg buruk dalam hal manajemen waktu. Sudah tidak terhitung lagi berapa jam waktu yg terbuang percuma hanya karena manajemen waktu yg sangat buruk.
(Tidak)Banyak yg bertanya, “Kenapa sih ambil T* di situ..?? Kok ga di bidang itu aja yg udah jadi kerjaan kamu? Padahal kan susah, harus ngulang belajar lagi dari awal… “Kata tercetak tebal itulah yg selama ini saya lupakan dan selama ini saya sepelekan. Ya, belajar..!!! Bukan hanya dalam hal akademis saja, tetapi juga dalam hal lain seperti manajemen waktu. Karena itulah saya mengambil bidang yang berbeda untuk mencoba peruntungan dan kredibilitas saya.
“Tapi, untuk bisa belajar seperti yg kamu maksud kan ga harus di bidang itu? Di bidang kamu yg sekarang kan juga bisa” Mungkin kata2 ini yg akan muncul dalam benak anda. Tapi percayalah mungkin ini sudah menjadi jalan saya untuk memilih bidang ini (halah pul,pul.. wong cuman T* aja bingung.. G*b*k banget sih..!!!).
Mencoba hal baru dengan semangat baru. Itulah yg dari dulu ingin saya lakukan. Semoga Allah SWT selalu menyertai saya dan selalu memberi saya rahmat dan hidayah. Dan semoga teman2 semua memberikan dukungan dan semangat kepada saya. Selayaknya memberi dukungan kepada atlet yg akan bertanding membela negaranya. Amien.
Tambahan : Dan semoga kelak saya dapat kembali lagi menekuni bidang saya dulu dengan lebih baik lagi. Amien lagi.
Menjadi kaya itu pastinya impian setiap orang. Karena dengan uang kita bisa membeli apapun. Sebagai seorang mahasiswa tentunya saat ini kita masih dihinggapi idealisme yg sedang tinggi2nya..
Lulus kuliah tepat waktu. IP diatas 3 dan kerja di tempat yg gajinya gede. Saya yakin itu semua ada di pikiran teman-teman semua.
Umumnya,klo saya liat di subjur saya,telekomunikasi,tren yang ada biasanya adalah kerja di vendor dulu beberapa tahun cari ilmu (dan gaji tentunya) sambil berharap kali2 aja dikirim ke luar negeri buat training. Selanjutnya,setelah puas bermain-main dengan ilmu tentunya beralih ke tipe pekerjaan yang sedikit tenang dan tidak terlalu menguras energi seperti kerja di operator.
Namun yang perlu diingat bahwa jangan hanya berpikir untuk mencari uang sampai2 tidak bisa menikmati hasil keringatnya sendiri seperti pengalaman kakak kita Hu Sin Yu, seorang engineer muda di Huawei ini.
Meninggal dalam usia 25 tahun pada 28 mei 2006 di rumah sakit akibat
infeksi pada otaknya (streptococcus pneumoniae), dengan organ-organ
utama tubuhnya yang sudah tak dapat berfungsi dengan baik.
klo bisa saya resume, kira2 kronologisnya sebagai berikut :
Hu Sin Yu, bergabung dengan huawei di senzhen tahun 2005, segera setelah lulus
study masternya di kota chengdu. Di huawei, dia termasuk anggota dari team fixed line network products, yang kemudian bergabung dalam satu project confidential perusahaannya. Hu bekerja full time dan kelewat waktu, pulang pukul 10 malam setiap
harinya, dan berangkat lagi ke kantor pukul 7 pagi sebelum bergabung
dengan project rahasia ini. jam kerjanya menjadi lebih lama, yang
biasanya hingga pukul 02.00 dinihari, dan kembali bekerja di pagi hari
pukul 8.
Hal ini juga sangat mengagetkan karena si mas Hu ini suka sepakbola dan tahan bersepakbola berjam-jam bersama temannya. Teman sekolahnya mengatakan “kerja melampui daya tahan tubuhnya telah membuat sistem kekebalan tubuhnya rusak, menjadikan iya lemah dan sakit-sakitan”.
Nah,dari sini didapat pesan moral. “Hati2 dengan nyawamu karena nyawa ga dijual di apotik. “
Satu lagi, beritanya udah basi, walaupun begitu ternyata saya bisa juga bahasa mandarin euy…
Hehehehe….
Susahnya Hidup di Jakarta
July 6, 2007
Bagi anda yg sudah terbiasa dengan kehidupan Bandung yg serba
teratur (kecuali Sabtu Minggu dan karena tempat tinggal saya dekat
dengan kampus) maka tentunya anda akan menghadapi perubahan (yang dapat
dikatakan ekstrem) dalam hidup anda apabila anda sekonyong-konyong
harus tinggal di jakarta yg “menakjubkan” ini.
Kenapa saya katakan “menakjubkan” ? Hal ini disebabkan karena
“sekejam-kejamnya ibutiri tidak ada yg melebihi kekejaman
ibukota,karena sesungguhnya ibutiri sendiri takut pada ibukota”
(hahaha…
) Back to topik, “menakjubkan” disini bisa berarti tanpa
kompromi, mahal, gerah, macet, antri dan bikin capek. Bisa saya
jabarkan satu persatu alasan tersebut.
Pertama,saya menginap di rumah sodara di Bintaro Jaya. Sedangkan
tempat tujuan saya tiap hari untuk melaksanakan Kerja Praktek adalah
Wisma Antara di Jl.Merdeka Selatan. Benar,anda benar… Pasti anda
mengagumi betapa hebatnya saya bolak-balik Bintaro-Antara setiap hari.
Paling tidak,saya harus mempersiapkan diri 2 jam sebelumnya bila saya
melewati jalur normal menggunakan angkot. Dan itulah yg terjadi pada
saya saat hari pertama kerja.
Untungnya,saya diselamatkan (walaupun tidak terlalu selamat juga)
dengan adanya KRL Sudirman Express yg hanya butuh waktu kira2 15 menit
ke daerah pusat. Perhatikan kalimat dalam tanda kurung di atas. Hal ini
disebabkan harga tiketnya yg mencapai 8000 rupiah. Wow… Lumayan atau
luar biasa mahal yah? Klo bagi saya sih mahal,maklum mahasiswa
perantauan. Itu belum termasuk ongkos bus dari stasiun ke kantor.
Jangan lupa dikalikan dua,karena judulnya pulang pergi. Overall,dalam
sehari saya bisa menghabiskan kira2 30 rb rupiah untuk transportasi dan
makan siang. Untung saja ada donatur…
Kedua,udara jakarta sangat gerah dan panas. Hampir tidak ada istilah
angin sepoi-sepoi,adanya angin seplak-seplak yg bikin nafas sesak. ![]()
Bukannya menyegarkan,malahan udara ini terasa menyesakkan ketika
dihirup. Hal ini terutama terjadi di tempat2 yang penuh kemacetan. Bisa
anda bayangkan material apa saja yg terkandung pada udara tersebut
sehingga membikin penghirupnya sesak. Mungkin orang-orang sudah lupa
klo kita masih butuh menghirup oksigen bukannya karbondioksida seperti
pepohonan.
Ketiga,kemacetan merajalela. Dimana-mana anda akan menemui kemacetan.
tentu saja bisa dikatakan, anda akan lebih sering menemui kemacetan daripada menemui saya. :p Kata temen saya,ulan
seburuk2nya macet Jakarta,macetnya masih teratur. Tidak seperti
macetnya Bandung yg tidak teratur. Lah..?? Pendapat yang aneh…Saya jadi bingung dibuatnya…
Alasan terakhir merupakan akumulasi dari alasan-alasan diatas. Jakarta
membikin kita capek. Capek gara2 menghabiskan banyak uang, capek gara2
kesehatan dipertaruhkan dengan dihirupnya udara kotor dan capek gara2
waktu habis di perjalanan menjalani ritual khusus jakarta yg sangat
terkenal itu “kemacetan”. Untung saja saya hanya berada di Jakarta
selama 2 bulan saja. Dan saat ini kira2 tinggal satu bulan lagi saya
akan berada di Jakarta.
Doakan saja agar saya mendapatkan balasan yang setimpal atas semua yang sudah saya korbankan selama ini (ada gitu? )
Introduction
June 3, 2007
Bismillah…
Semoga apa yg saya harapkan dapat terlaksana dengan baik seiring dengan dimulainya penulisan blog ini.
Amien

