Bagi anda yg sudah terbiasa dengan kehidupan Bandung yg serba
teratur (kecuali Sabtu Minggu dan karena tempat tinggal saya dekat
dengan kampus) maka tentunya anda akan menghadapi perubahan (yang dapat
dikatakan ekstrem) dalam hidup anda apabila anda sekonyong-konyong
harus tinggal di jakarta yg “menakjubkan” ini.
Kenapa saya katakan “menakjubkan” ? Hal ini disebabkan karena
“sekejam-kejamnya ibutiri tidak ada yg melebihi kekejaman
ibukota,karena sesungguhnya ibutiri sendiri takut pada ibukota”
(hahaha…
) Back to topik, “menakjubkan” disini bisa berarti tanpa
kompromi, mahal, gerah, macet, antri dan bikin capek. Bisa saya
jabarkan satu persatu alasan tersebut.
Pertama,saya menginap di rumah sodara di Bintaro Jaya. Sedangkan
tempat tujuan saya tiap hari untuk melaksanakan Kerja Praktek adalah
Wisma Antara di Jl.Merdeka Selatan. Benar,anda benar… Pasti anda
mengagumi betapa hebatnya saya bolak-balik Bintaro-Antara setiap hari.
Paling tidak,saya harus mempersiapkan diri 2 jam sebelumnya bila saya
melewati jalur normal menggunakan angkot. Dan itulah yg terjadi pada
saya saat hari pertama kerja.
Untungnya,saya diselamatkan (walaupun tidak terlalu selamat juga)
dengan adanya KRL Sudirman Express yg hanya butuh waktu kira2 15 menit
ke daerah pusat. Perhatikan kalimat dalam tanda kurung di atas. Hal ini
disebabkan harga tiketnya yg mencapai 8000 rupiah. Wow… Lumayan atau
luar biasa mahal yah? Klo bagi saya sih mahal,maklum mahasiswa
perantauan. Itu belum termasuk ongkos bus dari stasiun ke kantor.
Jangan lupa dikalikan dua,karena judulnya pulang pergi. Overall,dalam
sehari saya bisa menghabiskan kira2 30 rb rupiah untuk transportasi dan
makan siang. Untung saja ada donatur…
Kedua,udara jakarta sangat gerah dan panas. Hampir tidak ada istilah
angin sepoi-sepoi,adanya angin seplak-seplak yg bikin nafas sesak. ![]()
Bukannya menyegarkan,malahan udara ini terasa menyesakkan ketika
dihirup. Hal ini terutama terjadi di tempat2 yang penuh kemacetan. Bisa
anda bayangkan material apa saja yg terkandung pada udara tersebut
sehingga membikin penghirupnya sesak. Mungkin orang-orang sudah lupa
klo kita masih butuh menghirup oksigen bukannya karbondioksida seperti
pepohonan.
Ketiga,kemacetan merajalela. Dimana-mana anda akan menemui kemacetan.
tentu saja bisa dikatakan, anda akan lebih sering menemui kemacetan daripada menemui saya. :p Kata temen saya,ulan
seburuk2nya macet Jakarta,macetnya masih teratur. Tidak seperti
macetnya Bandung yg tidak teratur. Lah..?? Pendapat yang aneh…Saya jadi bingung dibuatnya…
Alasan terakhir merupakan akumulasi dari alasan-alasan diatas. Jakarta
membikin kita capek. Capek gara2 menghabiskan banyak uang, capek gara2
kesehatan dipertaruhkan dengan dihirupnya udara kotor dan capek gara2
waktu habis di perjalanan menjalani ritual khusus jakarta yg sangat
terkenal itu “kemacetan”. Untung saja saya hanya berada di Jakarta
selama 2 bulan saja. Dan saat ini kira2 tinggal satu bulan lagi saya
akan berada di Jakarta.
Doakan saja agar saya mendapatkan balasan yang setimpal atas semua yang sudah saya korbankan selama ini (ada gitu? )







