Setelah muter-muter ga jelas di money changer dan menukar beberapa lembar uang setempat dan uang adikuasa ini,

serta berharap-harap cemas, jadi juga saya ikut acara Wireless Network Security ini. Jadilah saya meninggalkan Indonesia dari tgl 8 Juni sampai 13 Juni. Suatu kesempatan yang istimewa buat saya bisa dipercaya mengikuti acara ini oleh ITB.

Tunggu saja kelanjutan kisahnya…

-Wismilak- ( doakan saya sukses eh beruntung ding )

Nasib mahasiswa tingkat akhir yang cupu. Ngerjain tugas akhir di rumah, karena ditolak di lab sana sini. Maklum, TA nya ada di daerah abu-abu, antara telekomunikasi dan elektronika. Jadinya ya ditolak residensi di lab telematika, karena pembimbing ga ada yang orang telematika. Di elektronika juga gitu.

Buku disana-sini (padahal cuman 2), ada mp3 player, ada handphone, ada coretan-coretan hasil konsultasi dosen, ada jurnal IEEE, ada RF microelectronics nya Razavi dan tentu saja ada laptop dengan software simetrix di dalamnya.

Biarlah, dimanapun tempatnya, yang penting TA nya selesai dengan lancar dan dimudahkan segala urusannya.. Amin.

” Wisuda kapan, Pul? PW nya udah ada belum? sapa? ”

-gaadapewegawisuda-

Hari Rabu kemaren, Fasri menginisiasi beberapa kawan loedroek untuk menukarkan voucher makan di Midori. Kawan loedroek yang beruntung itu antara lain saya, tito, utut, diah, anang, fajar, jek. Sebenernya sih, ini jadi salah satu siasat aja buat Fasri mempermurah biaya traktiran ulang tahunnya. Lumayan keren kan, ulang tahun di Midori. Jarang-jarang tuh. Voucher ini lumayan besar, kira-kira 200 rb an. Dapetnya sih pas Midori mau jadi sponsor Maen Gedhe Loedroek yang terakhir kemaren.

Tapi ya dasar katro, ada beberapa orang yang kelakuannya seperti makan di warung angkringan. Ini salah satu contohnya. Tempat sendok kok dipake buat piring.

Rupanya, kejadian pas makan-makan ARC dulu di Warung Unagi terulang. Teman saya, Diah mencoba memesan sushi. Setelah datang dan coba dimakan, barulah dia menjerit histeris. “Kok rasanya kayak gini????” Namanya juga sushi neng. Makanya, klo katro ya katro aja.. ga usah macem-macem.. Hahaha… Jadilah dia cuman minum dan berharap belas kasihan desert dari yg lain..

Tampang makanan kayak gini kok banyak yg suka. Aneh2 aja orang jepang ini bikin makanan.

Saya sendiri memesan orange juice dan Gyu Ramen ( mie kuah pake daging lebih tepatnya). Rasanya enak sekaligus aneh. Kok ga kayak mie pada umumnya.. Mahal betul. Mie aja 43 ribu.

Makan berdelapan di Midori pake voucher 200 rb. Jelas aja kurang. Akhirnya ya tetep aja, pake sistem budjet.. Hahaha.. Traktiran ulang taun kok disuruh bayar juga. Kawan-kawan loedroek ini memang aneh..

Ini dia wajah sang tersangka, Fasri.

Oh ya, pas kesitu, dapet bonus mbak-mbak (ato adik-adik ya) yg lagi makan juga. Lumayan kok. Biar ga basbang, ini skrinsyutnya juragan. Hehehe… Maap ya mbak/dik, jadi obyek kamera saya.. :p

Pada hari Jumat tanggal 23 Mei 2008 di gedung Kesenian Jakarta diadakan pagelaran loedroek nostalgia dengan judul “Adipati Sengguruh”. Dalam pagelaran ini Loedroek ITB tampil bersama dengan Puspo Budoyo, alumni SMA 1 Malang, dan alumni ITB

Inilah buah dari latihan keras para pemain, dan tentu saja yang paling keras adalah para pemain dari loedroek ITB yang rela pulang pergi Jakarta Bandung tiap hari minggu selama 1.5 bulan. Salut juga untuk para bapak dan ibu yang rela meluangkan waktu untuk terlaksananya acara ini.

Dalam pagelaran ini, saya berperan sebagai Raden Waspada, putra Dipati Singosari yang menikah dengan Rr. Sumedang yg diperankan oleh Bella. (Tp sayang cuma dalam cerita aja, g beneran.. hehe :p)

Tito berperan sebagai Raden Dyanaya, putra Dipati Sengguruh yg akan dinikahkan dengan Rr.Purwari anak dari Sunan Gribik yang diperankan oleh Alyssa Soebandono. Bagaimana ceritanya Alyssa bisa main loedroek adalah karena sebenarnya, bibi dari Alyssa adalah alumni SMU 1 Malang yang ikut bermain dalam pagelaran kali ini.

Wahyu sbg Ki Jagapati, Utut sbg Panji Laras, Andik sbg Panji Liris, utusan dari Sunan Kadanyangan. Pees sebagai Raden Taliwanda putra dari Dipati Panjer yg nantinya akan berseberangan dan berperang dengan saya, karena lebih loyal kepada ayah saya Dipati Singosari. Sementara saya lebih condong ke Dipati Sengguruh karena istri saya putri dari Dipati Sengguruh, adik dari Rd. Dyanaya.

Dalam cerita ini, akhirnya Dipati Sengguruh masuk Islam dengan bimbingan Sunan Gribik dan menjadi dibenci dan dianggap pengkhianat oleh sodara-sodaranya sendiri yaitu para Dipati Giri Kedaton seperti Dipati Singosari, Dipati Panjer, dan dipati2 lainnya.. (banyak euy, jd ga inget). Karena kalah jumlah, kemudian Dipati Sengguruh minta bantuan pada Jaka Tingkir yang sakti itu sehingga akhirnya dapat merebut kembali kekuasaannya. Jaka Tingkir diperankan oleh spesialis pemain ketoprak, Cak Kenthus.

Begitulah sekelumit cerita dari pagelaran ini. Para pelawak senior, seperti Nurbuat, Kirun, Kis Slamet, Aries, Tessy , Rohana seperti biasa tidak mengambil peran sentral dalam cerita ini. Mereka semua berperan sebagai abdi dalem atau rakyat jelata yang lebih memudahkan mereka dalam mengeksplor karakter dengan lawakan-lawakan dan sindiran sosial khas rakyat jelata.

Hanya Eko DJ yang mengambil peran sebagai Dipati di Giri Kedaton.

Dan seperti biasa pula, selayaknya dalam pagelaran ludruk bahwa harus ada yang istilahnya jadi tandak . Maksud dari tandak ini adalah laki-laki yang berperan sebagai perempuan. Fasri, Nino dan Wicak kebetulan mendapat amanah (beuh.. kata2nya) menjadi perempuan. Tidak hanya mereka bertiga, tetapi juga ada tambahan tandak yang didatangkan langsung dari Madiun, ada juga Yosef, alumni SMU 1 Malang yg sedang S2 di UI dan juga putra dari pak Aries sang sutradara, Agung. Pak Aries pun dalam pagelaran kali ini berperan sebagai perempuan. Di lain pihak, beberapa penari perempuan puspo budoyo berperan sebagai laki-laki.

Pagelaran ini sebenarnya membawa beberapa pesan moral diantaranya pelestarian budaya bangsa yang mulai ditinggalkan generasi mudanya, kritik sosial kepada anggota-anggota parlemen wakil rakyat sampai kepada isu-isu sosial yang berkembang saat ini.

Di akhir pagelaran, para pemain bersama-sama naik ke panggung dan kemudian diperkenalkan satu persatu oleh pembawa acara.

Begitulah sedikit goresan tinta dalam perjalanan hidup saya. Lumayan bisa dijadikan cerita buat anak cucu kelak, klo bapaknya ini pernah main sepanggung dengan artis-artis dan pelawak ibukota. Di lubuk hati yang terdalam, muncul keinginan klo kelak saya jadi orang sukses alangkah asyiknya punya suatu paguyuban kesenian sendiri yang mudah-mudahan dapat membantu melestarikan salah satu kebudayaan bangsa Indonesia. Kabar baiknya, ternyata teman-teman Loedroek ITB mempunyai keinginan yang sama. Semoga tidak menjadi wacana. Amin.

Related post : http://www.itb.ac.id/news/2092 (wuih, masuk website ITB euy… hehehe :p )

Sejak dari 1.5 bulan lalu hal inilah yg selalu saya lakukan. Tampaknya berkebalikan dengan apa yg dilakukan orang-orang pada umumnya, maksud saya warga Jakarta. Untung saja, hal ini tidak saya lakukan sendirian, tp bersama-sama beberapa mahasiswa anggota unit kesenian Loedroek ITB.

Bersama-sama kami pergi melawat ke Jakarta untuk melakukan latihan dalam rangka pagelaran ludruk kolaborasi dengan Puspo Budoyo, alumni SMA 1 Malang, dan alumni ITB. Kebetulan, kali ini Puspo Budoyo mengundang Loedroek ITB untuk ikut berpartisipasi sebagai salah satu bentuk dari pelestarian budaya bangsa oleh generasi muda. Sebelumnya, Loedroek ITB sudah pernah ikut berpartisipasi dalam pagelaran Puspo Budoyo pada Dies Natalis ITB yg ke 49 di Sasana Budaya Ganesha. Pagelaran ludruk ini mengambil judul Adipati Sengguruh.

Latihan dilakukan di Sanggar Puspo Budoyo di daerah Ciputat, tepatnya Jl. Elang no 1 Sawah Besar, Ciputat. Pagelaran ini melibatkan 12 orang anggota Loedroek ITB diantaranya saya (EL 04) , Tito (DP 04), Fasri (TG 04), Wahyu “glundhung” (TA 04), Utut (DP 04), Anang (EL 04), Pees (EL 06), Hombing (EL 06), Wirio (MS 06), Wicak (EL 04), Andik (TA 06) , dan Rodjo Loedroek saat ini Nino (TI 05).

Berikut foto dari beberapa pemain :

Hebatnya, lawan main Tito adalah seorang artis sodara.. Alyssa Soebandono. Lawan main saya juga ga kalah hebat kok, Isabella Natania, masih kelas 3 SMU. :p

Dalam pagelaran ini, pelawak-pelawak ibukota pun ikut berpartisipasi, diantaranya Nurbuat, Rohana, Kirun, Tessy, Eko DJ , Kis Slamet, dan Pak Aries Mukadi sendiri. Namun setelah beberapa kali latihan, yang terlihat hanya Nurbuat, Rohana, Eko DJ dan Pak Aries. Sutradara pagelaran ini adalah Pak Aries Mukadi.

Yah, itung-itung buat cari pengalaman panggung :p Kapan lagi bisa main bareng artis ibukota.

Yak tepat…!!!

Sesuai judul, dalam waktu dekat blog ini akan diupdate dengan cerita-cerita baru yg lebih seru..

Mohon maaf baru sempat mengurus blog ini lagi dikarenakan penulis sedang menyelesaikan semester terakhirnya di kampus gajah duduk

Oleh karena itu sekali lagi saya ucapkan…

I’LL BE BACK…!!!

Sumber Foto : Ini

Bapak Menteri kita mengalahkan para pesaingnya… Jadilah beliau ketua IA ITB yang baru. Ya,resmi sudah beliau menjabat ketua IA ITB yg baru periode 2007-2012. Di TPS Bandung, yaitu di Aula Timur ITB, beliau memperoleh suara yg mutlak sebesar 2224 suara. Ibu Betti sebanyak 862 suara, Bang Zaid sebanyak 177 suara, Pak Boyke 149 suara dan Pak Hengky 844 suara. Memang suara ini masi belum mencerminkan seluruh suara. Tapi perlu diingat bahwa di TPS Bandung ini tercatat sebanyak 4261 pemilih yg merupakan jumlah TPS dengan pemilih terbanyak.

Saya bisa tahu persis berapa perolehan suara yg ada di Bandung karena kebetulan saya dan Ridha serta mas Affan memegang langsung streaming acara ini ke Inherent dan ke Internet (halah, gitu aja bangga,wong cuman ngeklak-ngeklik kiri kanan…). Sebenarnya seluruh hasil daerah TPS yg lain juga diumumkan, tetapi saya tidak bisa berkonsentrasi untuk mencatat hasilnya dikarenakan kedatangan paket istimewa dari McDonalds berupa softdrink dan Paket Panas 1. Tentu saja hal ini lebih menarik minat saya… Hehehe…

Secara keseluruhan,suara yg diperoleh oleh semua kandidat dari semua daerah adalah sebagai berikut :

Betti Alisjahbana 1806

Hatta Radjasa 4510

Zaid Perdana 271

Boyke W 421

Tri Haryo Susilo (Hengky) 2090

Jumlah total pemilih sebesar 9134 orang. Sungguh jumlah yg katanya banyak (gara2 tepuk tangan para hadirin yg ada di aula timur)

Namun sayangnya, dari pemilihan ini ada 2 TPS yang jumlah suaranya dibatalkan, yaitu TPS yg ada di salah satu kota di Jawa Timur dan TPS yang ada di Bali. TPS di Jawa Timur dibatalkan karena menggunakan metoda polling SMS sedangkan TPS Bali dibatalkan karena pemilihan dilakukan kemarin, tanggal 16 November 2007.

Setelah disahkan melalui Kongres IA ITB pada saat itu juga yaitu setelah pemilihan selesai, maka dengan resmi terjadilah peristiwa penyerahan jabatan dari Laksamana Sukardi ke Hatta Radjasa.

Selamat…!!! Kepada pemenang perlombaan ini, yaitu Bapak Hatta Radjasa.. Semoga hasilnya dapat diterima oleh semua pihak dan dapat membawa IA ITB dan tentu saja ITB ke arah yg lebih baik lagi.. Amien..

Sesuai slogan Bapak…. “Saya membuka jalan, yang muda berkreasi”

Semoga Bapak memberikan kesempatan pada saya untuk berkreasi lebih jauh lagi…

Hehehehehe…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.